Senin, 20 Februari 2012

Tertundukku...

DEG!!

Berdegup jantungku saat menemukannya berdebu. 

Sesuatu yang dahulu selalu kubawa hati-hati di dalam ranselku. Sesuatu yang selalu kubuka dan kuhapalkan isinya disaat senggangku. Yang membantuku dengan lancarnya mengingat surat pertama pada juz 30 ketika diberi tugas hafalan oleh murabbi-ku.

Sesuatu yang lebih dari setahun tak lagi menemani keseharianku.

DEG!!

Semakin tak karuan detak jantungku ketika setelah kuhapus debu di sampulnya dan kubuka, pembatas halaman yang sama sekali tak bergerak dari lembaran terakhir dibaca pemiliknya. Masih menampilkan sederet tulisan yang sama yang dulu sempat membuatku menangis. Dan kini, tulisan itu bahkan membuatku menangis lebih deras lagi.

Aku mengeluhkan buruknya hafalanku.. 
 'Jauhilah Maksiat,' pesan guruku, 'karena ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah bukanlah untuk pelaku dosa.'

Astaghfirullahal'adzim.. Astaghfirullahal'adzim.. Astaghfirullahal'adzim..
berulang kali kulafalkan permohonan ampunanku pada Sang Khalik memohon ampunan-Nya akan kekhilafanku yang terlupa mendekatkan diri pada-Nya.

Kusegerakan berwudhu dan sholat. Lama tertundukku setelah sholatku.
Betapa cinta pada manusia membutakanku akan cinta pada Rabb-ku
Betapa keinginanku untuk selalu dekat dengan salah satu makhluk-Nya, membuatku lupa akan kewajibanku untuk mendekatkan diri kepada-Nya, Sang Pencipta.
Betapa mengingat pesan-pesan cinta makhluk-Nya membuatku lupa kewajibanku mengingat dan menghafalkan pesan-pesan cinta-Nya.

Semakin dalam tundukku. Semakin deras cucuran airmata yang keluar.
Betapa berjam-jam waktu yang kulewatkan bersama makhluk-Nya terasa sebentar, sedangkan waktu yang kuhabiskan bertemu dan berdekatan dengan-Nya terlalu sedikit.
Betapa bodohnya aku, merangkai indah mimpi untuk bisa hidup bersama makhluk-Nya yang kucintai, tapi aku terlupa siapa pemiliknya.

Aku terlupa, jika aku ingin meminta, kepada-Nya lah seharusnya aku meminta.
Aku terlupa, Ia satu-satunya yang dapat memutuskan siapa jodohku.

Aku khilaf. Ia memberiku 'cinta' sebagai rahmat, dan sekarang Ia mengambil kembali rahmatnya dariku.
Aku terlupa, Ia pemilikku.
Ia pun bisa cemburu, jika makhluk ciptaan-Nya lebih mencintai ciptaan-Nya yang lain ketimbang Ia,  Pencipta Langit dan Bumi beserta isinya. Pemilik Perasaan Cinta. Penentu Jodoh Manusia.

Astaghfirullahal'adzim.. Astaghfirullahal'adzim.. Astaghfirullahal'adzim..

Kutuliskan renungan ini dengan air mata yang belum mengering. Betapa aku ingin segera berbagi dengan Saudara Saudari-ku yang mungkin tengah mengalami hal yang sama denganku. Betapa seharusnya aku bersyukur disadarkan dari kesilapanku. Betapa seharusnya aku sadar Allah masih mencintaiku dan tak ingin aku terus-menerus terlupa darinya.

Dan tentang Jodoh, jika ingin segera bertemu dengannya, rayulah pemiliknya, luangkan waktu lebih besar bersama-Nya dan mintalah Ia memberikanmu jodoh yang terbaik untukmu.

Mari renungkan...

Senin, 30 Januari 2012

17th : Surat untuk Ma BesPlen

Padang, 30 Januari 2012

Assalamualaikum,Pak @yogaphareska ...

"Apa kabar kamu?" cuma akan jadi pertanyaan basa basi untuk kamu secara kita baru malam mingguan kemaren (hahaha biar mati pajak lu..). Nah, kemarin kan kamu minta dibikinin tulisan yang inspirasinya dari kamu, tadinya emang aku mau bikin cerpen, tapi setelah aku pikir-pikir karena kamu masih hutang es krim dan kopi sama aku (hahahaha...) jadi aku kirimin surat aja ya. Anggap aja ini Gratitude Letter dari aku karena kamu udah mau jadi tong sampah beberapa bulan ini.

"Status Galau!!!!!!"
Aku masih inget BBM yang kamu kirim beberapa hari setelah aku putus gara-gara kalo ga salah aku bikin status "Memancar - Merindukan Mantan Pacar" hehe. Agak canggung rasanya kita bisa komunikasi dengan lancar lagi setelah, well.., hampir 12 tahun kejebak dalam komunikasi canggung gara-gara gosip yang engga jelas asal usulnya. Hahaha.. Jujur rasanya legaaaaaaa banget ketika dalam kondisi rapuh kaya' gitu aku punya temen cowok yang bisa dengerin curhatan aku, terlebih lagi dari temen cowok yang unexpected. Soalnya aku tau, curhat sama cewek atau cowok ga sama rasanya.

Disaat temen-temen cewek aku menyemangati dengan cara mereka, kamu juga menyemangati dengan cara kamu sendiri. Cara yang sedikit kejam menurut aku, hehe.. Gimana engga, saat aku lagi putus cinta on the max dan lagi ekspresif-ekspresifnya mengungkapkan kesedihan aku di status (ciee..), kamu bukannya nyemangatin eh malah bilang  "JANGAN GALAU!!!", atau bilang "Ga perlu semua orang tau kesedihan kamu!!!" yang bikin hasrat galau aku timbul tenggelam. Jiahahaha..

Tapi Pak, aku ga bakal lupain kebaikan kamu juga. Kalimat-kalimat kacau yang mengawali BBM aku seperti "Pak, aku galau.." atau "Pak, aku nangis.." yang seringnya ga tau waktu itu selalu kamu ladenin dengan tabah. Hahahaha.. Bahkan kamu ikhlas nelpon aku di saat aku krisis kejiwaan (eh?) dan rela aku telpon sampe setengah tiga pagi daripada aku dengerin rekaman suara mantan aku yang bisa bikin aku ga move on tujuh turunan itu. Hehe.. :')

Pak, aku sadar kata-kata kamu memang pedih, tapi semuanya telah membantu aku untuk kuat ngadepin ini. Two months since this fuckin'-brokenheart thing strikes me, u've raised me up. Makasiiiiiiiiiiiiihhh banget Pak atas semua dukungan kamu yang sepertinya belum akan berakhir.

C'mon! Find ur own happiness!
Ur live isn't always about him, special relationship, broken ring!
U control ur life!
Ok,,!!
Nite!
Think about it'

Last chat this nite.
Bakalan aku coba, Pak. 
Jangan bosen ya ingetin aku. 
Jangan marah-marah terus juga. 
Hehehe..

Dari aku,
Cynthia Utami Putri, Ex-SD Baiturrahmah, Ex-6D2 ^^v


Rabu, 18 Januari 2012

5th : Surat untuk (Sebut Saja) Bunga

Padang 18 Januari 2012

Teruntuk: @three4yu

Aku tahu seharusnya surat ini aku kirim kemaren.
Tapi mau gimana lagi, kerjaan aku lagi numpuuuk banget jadi aku ga bisa kirimin kamu surat tepat waktu.

Hai Ayu
Kenalin, namaku Cynthia.
Pasti nanya kan ya kenapa aku memilih kamu sebagai selebtwit kesayangan aku?

Jawabannya sederhana. Kamu udah memotivasi aku untuk bertindak jadi diri aku sendiri, terutama dalam hal mengoceh di twitter. Tau ga sih, pertama kali aku baca tweet kamu di timelineku, aku langsung kepikiran,"waaahh.. ni cewek keren.. bisa ngetweet yang agak 'ke kiri' tanpa harus kelihatan mesum". Sejak saat itu, aku langsung menjadi follower setiamu.

Oke.. Jangan berpikir aneh dulu..
Tadinya aku ini pemalu (?). Pengen nge tweet sesuatu yang terkesan agak ngeres, tapi aku selalu takut sama penilaian orang-orang di sekelilingku. Padahal menurutku ngeres itu manusiawi. Cewek pun juga manusia. Cewek juga punya nafsu. Cewek juga punya otak. Jadi cewek juga berhak untuk ngeres (apasih..). Tapi sejak follow kamu, aku jadi ga takut lagi buat ngetweet ngeres. Hahahaha..

Nah, yang aku suka juga, isi timeline ayu itu ga melulu mesum. Tentang cinta juga, lucu juga, kadang serius juga. Dan suka juga liat-liat sketsa yang kamu bikin soalnya aku suka menggambaaaaar.

Yang paling aku suka itu, tweetnya kamu bukan tweet pencitraan. Ga perlu pura-pura jomblo. Ga perlu pura-pura jadi hantu. Pokoknya diri sendiri deh..
I like it.
Pertahankan ya, Yu..

Dari fansmu \^0^/

Senin, 16 Januari 2012

3rd : Surat untuk Inisial I

Padang, 16 Januari 2011

Assalamualaikum inisial I.
(@joy_coky)

Ini mungkin akan jadi surat pertamaku untuk kamu. Akan banyak sepertinya surat-suratku yang lain yang akan menyusul teruntukmu. Aku tidak ingin berpanjang-panjang cerita. Aku cuma ingin mengutarakan pertanyaan yang selalu ada di kepalaku yang membuat aku hidup dengan dihantui kenangan-kenanganmu.

"Jikalau kandasnya hubungan ini bukan salah sesiapa melainkan ketidakcocokan di antara sifatmu dan sifatku, lantas tak harus tak saling berkomunikasi kan?"

Itu saja. Aku cuma tak rela kehilangan sahabat yang delapan tahun kukenal, gara-gara kekasih yang baru aku kenal setahun.Terima kasih.



Dari aku,

....................... (tak tahu lagi harus mengisinya sebagai apa)

Minggu, 15 Januari 2012

2nd : Surat untuk Calon Suamiku

Padang, 15 Januari 2012

Assalamualaikum, Sayang.. (Mungkin seperti ini kamu akan aku panggil nantinya)

Apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja..

Sayangku, sedang mencarikukah kamu saat ini? Sedang bertanya-tanyakah kamu dimanakah jodohmu ini tersesat? Hehehe.. Jangan khawatir ya, Sayang. Aku baik-baik saja secara fisik. Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu melalui surat ini. Aku ingin kamu baca. Kalau sekiranya ada yang ingin kamu tanyakan kepadaku, tanyakanlah ketika nanti kita telah bersua..

Sayangku,..
Aku ingin menceritakan  dan meminta sesuatu kepadamu. Mungkin tadi aku berkata aku baik-baik saja, tapi ada satu bagian dari diriku yang sedang hancur dan masih ingin aku kemasi kepingannya.

Hati.

Ya. Hatiku saat ini sedang dalam kondisi yang sangat tidak baik. Aku telah terlanjur memberikan hatiku pada seseorang yang ternyata tidak serius menjalin hubungan denganku. Dia, tadinya, membuatku sangat yakin kalau dia ingin membangun hubungan yang baik denganku sampai ke jenjang pernikahan. Jangan kamu salah menanggapi. Aku tidak ingin kamu marah padanya ataupun membencinya. Selama berpacaran denganku dia sangat baik. Selama itu dia memperlihatkan sikap bahwa ia ingin serius. Hanya saja karena satu dan lain hal di akhir cerita tiba-tiba ia mundur. Ia berkata sikap dan sifatku sama sekali tidak cocok dengannya. Sesuatu yang aneh sebenarnya kalau ia baru menyadari mengingat sudah 8 tahun kami berteman dan hampir satu tahun berpacaran. Dan Ia sama sekali tidak mau memberikan kesempatan kepada hubungan kami untuk diperbaiki.

Kamu tau, Sayang?
Aku hancur. Aku tau aku punya kekurangan. Tapi seharusnya Ia sadar, sebagai sesama manusia iapun juga tak luput dari kesalahan. Tapi mengapa hanya kesalahanku yang terlihat? 

Sayangku, lama aku terpuruk dalam ketidakpercayaan diri karena kegagalan hubunganku sebelumnya. Mungkin kamu bertanya, mengapa begitu sulit bagiku melepasnya? Mungkin kalau bisa kujawab, karena ia tak hanya berhenti menjadi kekasihku tapi juga sahabatku. Aku terlanjur menyayangi keluarganya layaknya keluargaku. Tapi bahkan untuk itupun sangat sulit, karena bila tak lagi menjadi kekasih, tak lagi menjadi sahabat, bagaimana aku dapat mengungkapkan sayangku kepada keluarganya? Tak lazim. Begitu katanya padaku.

Sekarang, cerita tentang dia telah usai. Kalau kamu ingin tahu, aku masih tetap menganggapnya sahabat walaupun Ia tak ingin begitu. Bagaimanapun dia juga telah memberikan kebahagiaan kepadaku saat masih bersamanya. Aku juga sama sekali tidak menyangkal. Tapi aku hanya akan menganggapnya sahabat. Tak  lebih.

Yang ada di pikiranku saat ini dan ke depannya hanya keluargaku dan kamu. Aku berusaha menjadi lebih baik agar aku dipertemukan Allah denganmu. Aku berusaha memperbaiki ibadahku agar aku dipertemukan denganmu yang rajin beribadah. Aku berusaha memperbaiki hatiku agar aku dipertemukan denganmu yang baik hatinya.

Dan aku ingin meminta sesuatu.

Sayang, jangan kau datang kepadaku saat ini.

Tunggulah sebentar lagi. Bersabarlah.

Karena kalau kamu bertemu aku sekarang, mungkin aku tidak akan mengenalimu. Bahkan mungkin aku tidak menggubrismu. Sekuat apapun usahamu untuk membuat aku cinta, akan sia-sia. Karena kalaupun aku paksakan untuk mencintaimu, hanya akan jadi perasaan yang palsu tidak bermakna. Aku tidak ingin itu.

Tunggulah sesaat lagi. Tak akan lama.

Aku sedang memperbaiki hatiku yang tlah pecah berkeping. Mungkin memang tak sebaik sebelumnya, tapi aku ingin saat aku bertemu denganmu hatiku telah kembali utuh. Aku ingin tak ada yang lain di hatiku saat kita bertemu. Yang terlebih penting, aku tidak ingin menjadikanmu pelarianku.
Tak apa kita mundur selangkah, untuk kita maju seribu langkah.
Kamu setuju kan, Sayang?

Oke, kali ini mungkin itu dulu yang ingin aku utarakan. Begitu aku ingin menceritakanmu hal lainnya, aku akan menyuratimu lagi. Baik-baik, Sayang. Jaga dirimu untuk aku, seperti saat ini aku sekuat tenaga menjaga diriku untuk kamu.


I (will) Love you.

Wassalam,
Calon Istrimu yang sedang menata hati.